Tampilkan postingan dengan label Motivasi Sukses Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi Sukses Kerja. Tampilkan semua postingan

Sebuah Pertanyaan Terpenting


Namaku Riri, aku saat ini sedang kuliah semester akhir di sebuah universitas negeri. Aku kuliah disebuah jurusan yang cukup favorit, yaitu jurusan Kedokteran. Sebuah jurusan – yang aku yakini – dapat membuat hidupku lebih baik di masa mendatang.

Bukan kehidupan yang hanya untukku, tetapi juga buat keluargaku yang telah susah payah mengumpulkan uang – agar aku dapat meneruskan dan meluluskan kuliahku. Kakakku juga rela untuk tidak menikah tahun ini, karena ia harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai tugas akhir dan biaya-biaya laboratoriumku yang cukup tinggi.

Hari ini adalah hari ujian semesteranku. Mata kuliah ini diampu oleh dosen yang cukup unik, dia ingin memberikan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan. “Agar aku bisa dekat dengan mahasiswa.” katanya beberapa waktu lalu.

Kisah Si Penjual Sisir


Pada suatu hari, sebuah perusahaan sisir akan mengadakan ekspansi untuk area pemasaran yang baru. Perusahaan sisir tersebut lalu membuka lowongan pekerjaan. Karyawan baru itu akan ditempatkan di Divisi Marketing. Setelah lowongan dibuka, banyak sekali orang yang mendaftarkan diri untuk mengisinya. Lebih dari 100 orang pelamar datang ke perusahaan itu setiap harinya.

Setelah melalui berbagai proses seleksi yang cukup ketat, terpilihlah tiga kandidat utama. Sebut saja A, B, dan C. Perusahaan lalu melakukan seleksi final dengan memberi tugas kepada tiga orang terpilih. Seleksi finalnya ialah A, B, dan C diminta untuk menjual sisir kepada para biksu – yang tinggal pada sebuah komplek wihara – di area pemasaran baru tersebut – dalam jangka waktu 10 hari. Bagi sebagian orang, tugas ini sangat tidak masuk akal, mengingat biksu-biksu itu berkepala gundul dan tidak pernah memerlukan sisir.

Akhirnya Ayah Melihatku Bertanding


Cerita ini berawal di sebuah sudut kota. Disana ada seorang remaja, sebut saja namanya Den. Di rumah, Den cuma hidup dengan ayahnya. Kakak-kakak Den sudah menikah dan tidak tinggal di rumahnya lagi. Den adalah seorang siswa kelas 2 SMU. Den juga suka bermain sepak bola. Ia sangat menyukai olah raga itu. Den cukup aktif di dalam klub sepak bola di kotanya. Den mendapat dukungan yang sangat kuat dari ayahnya akan hobinya tersebut.

Den berlatih sepak bola dengan timnya tiga kali seminggu. Sesekali timnya juga mengikuti beberapa kompetisi dan beberapa kali pernah menang. Seperti kali ini, timnya sedang mengikuti sebuah kejuaraan sepak bola yang cukup bergengsi. Pertandingan demi pertandingan dilalui dengan lancar hingga membawa tim tersebut ke babak grand final yang akan diselenggarakan  hari sabtu nanti.

Hikmah Sebatang Pensil


Pada jaman dulu, pensil dibuat secara manual dalam arti tidak menggunakan mesin-mesin canggih seperti sekarang. Sebelum merakit pensil, seorang tukang pensil memilih kayu kecil yang benar-benar lurus dengan ukuran yang sesuai. Sesudah itu ia akan membelah kayu menjadi dua tepat di tengah. Di tengah-tengah belahan kayu tersebut dipasang batangan grafit. Sepasang kayu tersebut kemudian diolesi lem dan dikatupkan kembali.

Proses itu pulalah yang dilakukan oleh Charles. Charles adalah seorang tukang pensil yang cukup terkenal. Memang, tidak banyak orang yang bisa membaca dan menulis waktu itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang membutuhkan jasa Charles. Biasanya kaum bangsawan maupun keluarga kerajaan. Sehingga, kedudukan pembuat pensil di mata masyarakat waktu itu pun juga cukup terpandang.

Kisah Eskrim Setengah Dolar


Pada suatu hari seorang anak kecil masuk ke sebuah restoran terkenal. Dengan langkah riang dan sedikit berlari, anak kecil itu duduk di salah satu bangku kosong di sana. “Sangat Ramai.” gumamnya. Anak kecil itu kemudian mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan restoran. Seorang pelayan perempuan pun segera datang menghampiri anak kecil itu dengan membawa buku menu makanan.

“Mau pesan apa, dik?” Tanya pelayan itu. “Berapa harga satu porsi es krim bertabur strawbery dan coklat itu?” Si anak balik bertanya sambil menunjuk salah satu gambar yang terpampang di tembok restoran.
“2 Dollar.” Jawab si pelayan dengan ramah. Anak itu kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan beberapa keping uang receh dan menghitungnya. “Kalau es krimnya tanpa strawberry dan coklat berapa?”. “1 Dollar.” jawab pelayan itu dengan sedikit aneh.

Kisah Anak yang Buta


Seorang anak buta duduk bersila di sebuah tangga pintu masuk pada sebuah supermarket. Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.” Ada Seorang pria dewasa yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh, lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria kaya itu memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan. Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Hadiah Bunga untuk Ibu


Pagi itu, seorang pria tampak turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk membeli sebuah kado di kompleks pertokoan itu. Besok adalah hari Ibu, dan ia bermaksud untuk membeli lalu mengirimkan sebuah hadiah lewat pos untuk ibunya di kampung. Seorang Ibu yang pernah ia tinggal pergi beberapa tahun lalu untuk kuliah, mencari nafkah, dan mengejar kesuksesan di kota besar ini. Langkah-langkah pria itu terhenti di depan sebuah toko bunga. Ia melihat seorang gadis cantik. Ternyata, gadis itu adalah adik tingkatnya semasa kuliah dulu. Gadis itu terlihat sedang memandangi lesu rangkaian bunga-bunga indah di etalase. Matanya terlihat dengan jelas tengah berkaca-kaca, air mata nya hendak meleleh, seperti akan menangis.
Setelah cerita cerita lalu dilantunkan, pria itu lalu bertanya “Ada apa denganmu? Ada apa dengan bunga-bunga itu?”

Maaf, Saya Tidak Punya Email


Cerita ini berawal ketika seorang pemuda melamar menjadi cleaning service di sebuah perusahaan. Perawakannya yang kecil sangat mirip dengan anak SMP walaupun usianya sudah dua puluh tahun. Tetapi bukan hanya penampilannya, pemuda itu benar-benar cuma lulusan SMP. Makanya, dia memilih melamar jadi cleaning service saja.

Hari itu adalah hari yang teramat berat bagi mantan anak SMP itu. Pertama-tama ia harus menjalani tes wawancara, kemudian tes penggunaan alat-alat pembersih modern yang tidak ia mengerti, belum lagi tatapan  mata para pengawas yang terlihat seperti sangat meremehkan perawakannya yang mirip anak SMP.

Kisah Hati yang Sempurna


Ada cerita kasih, pada suatu hari seorang anak SMP tidur lalu bermimpi. Dalam mimpinya, seolah-olah setiap orang bisa melihat bentuk hati di dada orang lain termasuk hatinya sendiri. Sekilas, ia sangat mengagumi dan terheran-heran dengan suasana ini. Lalu, anak SMP itu mengalihkan pandangan ke dadanya sendiri, ia sangat bangga ketika melihat hatinya berbentuk merah jambu utuh dan berkilauan. “Hati yang sempurna” katanya, “Tak bercacat dan tak bernoda”.

Lalu ia melangkahkan kakinya keluar. Ia mulai mengamati hati orang-orang di sekitarnya. Ada yang terpancar indah seperti miliknya, ada yang terdapat luka, ada yang besar, ada yang kecil, dan sebagainya. “Wow, luar biasa…” katanya lagi. Si anak SMP makin yakin bahwa hatinyalah yang paling sempurna karena ia tidak melihat ada hati yang lebih indah dari miliknya.

The Science of Luck


Anda pasti kenal tokoh is Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstoneini. Betapa enaknya hidup is Untung.

Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung Dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu is Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti is Untung, don't worry, ternyata beruntung itu Ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, Dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Nikmati dan Hargai Waktumu


Tak seorangpun tahu, kapan waktu mulai bergerak
Dan entah kapan sang waktu berhenti berjalan
Yang pasti, sampai detik ini dia terus bergerak dan terus bergulir
Entah Anda menghargai waktu dengan memanfaatkan sebaik-baiknya?
Atau selalu menyia-nyiakan waktu dengan aktivitas yang tidak bermanfaat?

Dia tetap dia
Dan terus berjalan tanpa memihak kepada siapapun, tanpa membantu siapapun
Tetapi dia bernilai untuk siapapun
Dia tidak pernah kalah dan tidak akan usang
Dia selalu baru, selalu segar dan tegar. Hanya kitalah sebagai manusia lambat atau cepat, pasti akan termakan oleh proses sang waktu

Apa yang Tidak Mungkin Dicapai?

Meskipun Anda mungkin sudah ribuan kali mendengar kata ini, "Nothing is
Impossible", tetapi banyak diantara kita yang masih tidak menerapkan kata-kata
tersebut dalam hidup. Kita sering kali membuat batasan yang menghentikan kita
dalam mencapai impian-impian kita. Bahkan kita sering sekali meyakinkan diri
kita bahwa kita tidak sanggup dan tidak pantas untuk sukses, seakan-akan sukses
itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan dan ingin dijauhi. Atau mungkin kita
mempercayai perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa sesuatu itu tidak
mungkin dilakukan. Dan lebih parah kita menelan perkataan itu mentah-mentah
tanpa pernah membuktikan kebenarannya.

Anda pasti sering mendengar orang berkata, "itu tidak mungkin, sekarang kan lagi
krisis", "saya saja sudah mati-matian dan gagal, apalagi Anda", "belum pernah
ada yang berhasil", "tidak mudah melakukan ini, sulit sekali" dan banyak
perkataan negatif lainnya yang berusaha menjatuhkan Anda. Sayangnya, banyak
orang-orang yang menerima itu sebagai kenyataan tanpa pernah membuktikannya.
Mereka membenarkan itu semua. Itu semua dijadikan alasan untuk tidak berjuang
untuk meraih kesuksesan. Mereka percaya dengan itu semua dan tetap berpegang
teguh dengan keyakinan yang sangat membatasi tersebut. Mereka akan berjuang
keras untuk mempertahankan keyakinan itu tidak peduli apakah keyakinan mereka
mendorong atau bahkan menjauhkan mereka dari kesuksesan.

Status Inspiratif untuk FACEBOOK


Hidup adalah perjuangan tanpa henti2, usah kau tangisi hari kemarin (perasaan kaya lirik lagu, lagu apa ya?)

Niat > mimpi > belajar dr orang yg sudah brhasil meraih mimpi yg sm dgn mimpi qt > tiru langkah orng itu > modifikasi & sesuaikn > buat rencana > aksi sesuai rencana > evaluasi > sabar dlm proses > syukur pd stiap tahap yg brhasil d lalui

Apakah d masa depan aq akan menyesalkan apa yg ku lakukan hari ini? Ato membanggakan? Trgantung pada apa yg aq lakukan hari ini. Lakukan sesuatu yg buat aq mensyukurinya & bangga d hari esok.

Bersyukur dengan Rp10.000


Rp10.000 yang Membuat Bersyukur

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.

Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, "Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami
tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!"

Kita adalah Arsitek Diri Kita Sendiri


Kita adalah ARSITEK Diri Kita Sendiri
Oleh: Nover

"Semua mimpimu bisa menjadi kenyataan jika kamu memiliki keberanian untuk mengejarnya."
(Walt Disney)

Kebanyakan dari kita selalu berpikir tidak mungkin akan menjadi seseorang yang sukses. Banyak yang merasa tidak yakin akan kemampuan dirinya, tidak yakin akan bakat yang dia miliki dan selalu mendengar cemoohan orang lain. Akibatnya, kemampuan dan bakat yang dia miliki terkubur seiring berjalannya waktu.

Tahukah Anda, sebenarnya yang lebih mengetahui akan kemampuan dan bakat yang ada dalam diri kita adalah diri kita sendiri. Yang merencanakan masa depan, yang menjadi arsitek dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri. Kalau kita mengenali diri sendiri, pasti kita mengetahui apa yang kita senangi dan apa yang kita mampu untuk melakukannya. Jadi, jangan hiraukan apa yang dibilang oleh orang-orang tentang suatu hal yang dapat menghancurkan impian kita. Hilangkan kata "TIDAK" dalam kosa kata "TIDAK MUNGKIN" dalam pembendaharaan kata Anda, sehingga kata yang tinggal adalah kata MUNGKIN.

Santapan Inspirasi dan Motivasi

Santapan Inspirasi dan Motivasi
Oleh: Mario Teguh*

Kata-kata bijak Mario Teguh sangat menginspirasi banyak kalangan, Andakah salah satunya? Jika demikian saat ini Anda harus percaya bahwa kata-kata memiliki makna kekuatan yang luar biasa untuk menimbulkan gairah motivasi dalam hidup Anda. Melalui kata-kata, Mario Teguh membuktikan bahwa dirinya mampu membirikan spirit bagi orang-orang di sekitarnya. Ingin tahu buktinya? Berikut ini beberapa kata-kata bijak Mario Teguh yang bisa menginspirasi hidup Anda;

1. Orang yang selalu menghindari kesalahan tidak akan pernah tumbuh
Kata-kata bijak Mario Teguh ini memberikan isyarat tentang pentingnya belajar dari sebuah kesalahan. Kesalahan merupakan cara manusia untuk menjadi lebih dewasa dan baik lagi di masa akan datang. Orang yang tak pernah salah justru orang yang tak akan pernah tumbuh dan berkembang, karena ia tak mendapatkan sebuah hikmah dan pelajaran dari kesalahan yang telah dilakukannya. Nikmati lah kesalahan sebagai bagian dari proses untuk sukses dan tumbuh lebih baik di masa akan datang.

2. Manusia yang paling indah adalah manusia yang paling banyak manfaatnya
Di dalam pembagian jenis manusia, ada dikenal istilah manusia wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Kata-kata bijak Mario Teguh di atas menjelaskan tentang pentingnya pribadi seseorang untuk tumbuh menjadi sosok manusia wajib, yakni manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Sebaik-baik manusia adalah yang paling berguna bagi orang lain. Ungkapan ini sangat sesuai dengan konsep ajaran Islam yang juga menegaskan hal tersebut, yakni pentingnya bagi seorang Muslim untuk menjadi manusia wajib.

3. Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu adalah sesuatu yang sangat berharga
Tuhan telah menciptakan kita di muka bumi ini secara gratis dengan segala nikmat dan karunianya pada kita. Waktu pun diberikan secara gratis dan bebas pada manusia. Kita dibiarkan untuk menjalani hidup ini dengan pilihan-pilihan hidup. Waktu diberikan secara cuma-cuma. Namun jarang diantara kita yang menyadari semua itu. Tak semua manusia sadar betapa berharganya waktu, hingga banyak lah dari manusia yang melalai kan nya. Betapa bergarganya waktu, jadilah seseorang yang menghargai waktu yang kita jalani dengan melakukan berbagai kebaikan hidup.

4. Jangan pernah merobohkan sebuah pagar tanpa mengetahui tujuan berdirinya pagar tersebut
Kata-kata bijak Mario Teguh ini mirip sebuah pribahasa. Pesan penting dari kata-kata bijak ini adalah jangan pernah seseorang latah mengabaikan sebuah kebaikan, sementara ia tak tahu akibat buruk apa yang akan ia dapatkan setelah mengabaikan kebaikan tersebut. Kenali lah setiap tujuan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, agar kita betul-betul yakin dalam melakukannya. Jangan hanya ikut-ikutan, tapi landasi lah dengan pengetahuan dan pemahaman yang jelas tentang kebaikan tersebut.

Menyalakan Kembali Semangat Membaca

Menyalakan Kembali Semangat Membaca
Oleh: Erny Ratnawati*
Source: http://tinyurl.com/3vnagn3

Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Budaya membaca adalah salah satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan. Sejarah mencatat tinta emas masa kegemilangan Islam berabad silam, tak lepas dari budaya membaca pada saat itu. Pada masa tersebut, Kaum muslim begitu bersemangat untuk membaca dan menelaah ilmu pengetahuan. Kumpulan kitab kitab yang berderet di perpustakaan juga begitu digandrungi untuk dipelajari.Kotakotakaum muslimin seakan menjadikotametropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang.

Tak mengherankan, dari sanalah kemudian peradaban Islam mulai merangkak menuju puncak kejayaan. Rahim peradaban cemerlang yang melahirkan para ilmuwan muslim terbaik dunia. Tidak hanya bersinar dilingkup kaum muslimin, namun prestasi para ilmuwan itu telah diakui di tingkat dunia, bahkan mendapat predikat terbaik. Seperti yang telah dikatakan oleh George Sarton bahwasanya sesungguhnya kaum Muslim telah mencapai tugas utama kemanusiaan yang sebenarnya.Yakni menjadi obor pengetahuan di segala bidang.Umat muslim telah mencatatkan goresan sejarah sebagai kontributor terbaik di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja, Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim. Sungguh prestasi yang membanggakan. Bahkan di masa kejayaan itu, bangsa Eropa banyak berbondong bondong belajar pada kaum muslimin hingga berabad lamanya.

Namun, jika kita menarik garis lurus dengan kondisi sekarang, kita seolah merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Gaung kejayaan Islam berabad silam kian hari kian memudar, seiring menurunnya kualitas dan daya saing kaum muslim di kancah dunia dari waktu ke waktu. Salah satu indikator yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat daya saing tersebut, adalah kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Harus kita akui memang saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban barat. Kita mungkin tidak ingat kapan terakhir kalinya mendengar nama seorang muslim disebut sebagai pemenang nobel dalam bidang ilmu pengetahuan atau kedokteran, ataupun berapa banyak jumlah publikasi ilmiah dan paten teknologi yang ditelurkan dari tangan seorang muslim. Mungkin ada, namun yang pasti tidak banyak jumlahnya.

Kondisi ini tentu memprihatinkan, apalagi jika kita menilik bahwa Islam sendiri adalah agama yang sangat mendorong pemeluknya untuk belajar ilmu pengetahuan. Al- Qur’an sebagai kitab sakral umat Islam bahkan dikatakan sebagai ensikopledi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ayat ayat kauliyah Allah didalam Al- Qur’an banyak terbuktikan kebenarannya secara ilmiah. Al- Qur’an juga bahkan disebut sebut sebagai sumber inspirasi penemuan penemuan manusia di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, kaum muslim sebenarnya juga memilki harta karun berharga, yakni kitab kitab para ilmuwan besar muslim sebagai rujukan dan sumber ilmiah pengetahuan. Semisal kitab Qanun fi Thib, salah satu dari karya Ibnu Sina yang ditulis dalam bentuk ensiklopedis menyangkut pengobatan dan obat-obatan. Kitab ini dijadikan rujukan di dunia kedokteran selama berabad lamanya, atau karya Aljabar paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah buah pikiran Al- Khawarizmi dan sederet karya luar biasa lainnya.

Namun sayangnya, hal hal tersebut nampaknya kurang begitu tergali dan termanfaatkan oleh kaum muslim. Yang lebih disayangkan lagi justru orang orang non-muslim (baca: barat) lah yang gencar untuk mengambil ilmu dari para ilmuwan tersebut. Walhasil, tak mengherankan jika dunia mungkin lebih banyak mengenal para ilmuwan Eropa dan Amerika sebagai tokoh ilmu pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan deretan nama tokoh muslim. Kondisi ini terjadi, tidak lain tidak bukan, karena memang kaum muslim belum banyak mengambil peran disana. Kita seakan masih saja menjadi penonton di papan percaturan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini membuat kredibilitas dan bargaining position kaum muslim di bidang ilmu pengetahuan kurang cukup diperhitungkan.

Kaum Muslim ‘Lupa’ Membaca

Jika mau untuk kembali merefleksi diri, Salah satu hal yang ditengarai menjadi titik kunci terjadinya degradasi tersebut diatas adalah fenomena Kaum Muslim‘Lupa’Membaca.

Fakta berbicara bahwa budaya baca bangsa-bangsa muslim ternyata berada jauh di bawah bangsa bangsa barat. Hal ini dapat dilihat dari budaya literasi bangsa muslim yang masih timpang. Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara muslim hanya mampu menerjemahkan sekitar 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya. Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya(Mashudi Antoro,2010). Di Negara muslim lain seperti Indonesia yang berpredikat Negara berpenduduk muslim terbesar, jumlah buku baru yang terbit di negeri ini hanya berkisar 8000 judul/tahun, jumlah yang sangat minim jika dibandingkan dengan Vietnam dengan jumlah 45.000 judul/tahun dan Inggris yang menerbitkan 100.000 judul/tahun. Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitas mayoritas rakyat bangsa tersebut untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang didapat dari aktivitas membaca (Sudarwoto, 2009). Cukup memprihatinkan realita tersebut, apalagi jika mengingat perintah yang Allah pertama kali justru adalah perintah untuk membaca. Hal ini patut menjadi introspeksi bersama.

Jika ditelisik kembali dari urgensinya, membaca adalah aktivitas yang sangat bermanfaat karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Tak heran,budaya membaca dikatakan selalu berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Demikian juga salah satu faktor suatu bangsa dikatakan maju juga tak lepas diukur dari tingginya minat baca masyarakatnya.

Sedangkan ditinjau dari segi kebermanfaatan, dalam buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa karya Mashudi Antoro disebutkan bahwa membaca dapat mendorong seseorang terstimulus untuk berinovasi dan produktif dengan banyak ide segar dan gagasan yang baru, selain juga dapat mematangkan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detail, dan mampu digunakan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan. Bagi kaum muslim sendiri, membaca dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk kembali menggali dan menemukan warisan ilmu ulama yang merupakan tambang emas yang begitu berharga.

Akan tetapi sayang sekali, menilik data tentang realita budaya baca kaum muslim yang penulis paparkan di awal, kita memang patut untuk prihatin. Namun, jika berhenti di batas keprihatinan belaka, maka kondisi ini nampaknya akan terus berlarut saja. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa semangat membaca bagi kaum muslimin sudah seharusnya kembali dinyalakan. Semangat itu tentu pada awalnya harus tersematkan terlebih dahulu di masing masing muslim secara pribadi, karena inti perubahan sejati adalah dimulai dari diri sendiri. Dari kesadaran personal tersebut diharapkan akan tumbuh menuju kepada kesadaran kolektif. Ketika telah tercipta kesadaran secara berjamaah,kesadaran ini akan menggerakkan sebuah kebiasaan menjadi jamak dilakukan. Dari kebiasaan masyarakat yang sering dan berulang ulang dilakukan tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah budaya.

Budaya membaca bagi kaum muslim memang sudah selayaknya segera kembali digalakkan. Karena darisanalah produktivitas karya akan banyak dilahirkan. Dari produktivitas itulah, kaum muslim dapat membuktikan di mata dunia, bahwa mereka mampu kembali membawa gemilang nama Islam melalui torehan karya dan prestasi yang luar biasa. Mengulang kembali sejarah, bukan hal yang mustahil kiranya jika umat muslim mau bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dan semuanya itu dapat diawali dari satu langkah sederhana. Nyalakan kembali semangat membaca kaum muslim dunia.

Wawwllahu ‘alam bisshowab

Produktivitas Seorang Muslim

Produktivitas Seorang Muslim
*Dari Berbagai Sumber

Produktif merupakan salah satu sifat inti yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Pengakuan eksistensi individu (juga sebuah kelompok) di lingkungan masyarakat akan ditentukan oleh ada tidaknya produktifitas individu tersebut. Oleh karena itu, seseorang yang tidak produktif biasanya akan digelari wujuduhu ka ‘adamihi, keberadaannya tidak berpengaruh dan tidak menimbulkan perubahan yang signifikan dan ketiadaannya pun tidak menimbulkan rasa kehilangan serta penurunan etos produktifitas yang lainnya.

Maka, sangatlah wajar bila dalam rangka memenuhi keingian manusia untuk menjadi sosok yang produktif, dan eksistensinya secara sosial diakui, banyak konsep-konsep yang ditawarkan kepada mereka supaya bisa membangun dirinya menjadi manusia yang produktif. Semua konsep mempunyai misi tertentu, baik dalam pembentukan paradigma seseorang ataupun pembentukan visi dan misi hidupnya.

Islam adalah agama syamil, yang mengurusi semua aspek kehidupan manusia. Islam merupakan agama ‘amali, agama yang mengutamakan nilai-nilai produktivitas secara sempurna dan syumuli, baik produktif dalam arti menghasilkan sebuah karya ataupun produktif dalam arti mengasilkan sebuah peningkatan serta perbaikan diri dan masyarakat. Oleh karena itu, produktifitas di sini didefinisikan sebagai semua hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan (khairiyyah). Dan kita dituntut untuk melakukan hal ini.

Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. 22:77)

Sebelum masuk lebih lanjut kepada konsep Islam membina manusia menuju “sosok produktif”, ada satu persepsi yang harus kita samakan mengenai “manusia produktif” ini. Karena kebanyakan kita menggambarkan sosok ini dari satu dimensi saja. Manusia produktif ialah mereka yang memiliki banyak karya, aktif dan enerjik dalam bekerja. Ini tidaklah salah, akan tetapi bila kita melihat lagi dari kacamata Islam, kita akan mendapatkan bahwa semua nilai-nilai khairiyyah (kebaikan) dianggap suatu produktifitas manusia, duniawi dan ukhrawi.

Oleh karena itu, ada tiga jenis produktifitas manusia, produktifitas terhadap Allah (produktif dalam ibadah mahdhah, shalat, shaum, dzikir, dan lain-lain), produktifitas terhadap diri sendiri (produktif dalam memenej diri, membangun dan membina kedewasaan, dan lain-lain) dan produktifitas terhadap sesama manusia (produktif dalam berbuat ishlah atau perbaikan) baik berupa penularan gagasan dan pikiran (karya-karya ilmiah, ceramah dan dakwah) atau berupa tenaga dan jasa.

Islam –dengan ke-syumulannya– menawarkan konsep “manusia produktif” kepada setiap orang sekaligus mengantarkan mereka menembus nilai-nilai ilahiyyah yang sering tertutup oleh tabir kegelapan jahiliyyah. Sekurang-kurangnya ada empat prinsip yang dapat penulis utarakan sebagai konsep Islam dalam membina manusia menjadi muslim produktif, duniawi dan ukhrawi.

Yang pertama, mengubah paradigma hidup dan ibadah. Dalam Islam, hidup bukanlah menuju kematian, akan tetapi menuju kehidupan yang abadi. Hidup merupakan ladang yang akan dituai hasilnya di kehidupan abadi nanti. Sehingga hidup ini merupakan durasi penyeleksian manusia dari amalan-amalannya, dari produktifitasnya di pentas dunia. Mana di antara mereka yang tigkat produktifitasnya tinggi dan mana yang tidak.

Yang kedua, memelihara kunci produktifitas, yaitu hati.

Rasulullah saw bersabda:

“Ingatlah dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka akan baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila daging itu rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, itu tidak lain adalah hati.”

Hati merupakan “ruh” bagi semua potensi yang kita miliki. Pikiran dan tenaga tidak akan tercurahkan serta tersalurkan dalam suatu bentuk ‘amaliyah khairiyyah (bernilai produktif) jika kondisi hati ini mati atau rusak. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam hadits di atas. Kalaupun ada, maka itu secara dhahir saja dan tidak menyentuh nilai-nilai ilahiyyah.

Hati yang terpelihara dan terlindungi akan memancarkan energi yang mendorong manusia untuk beramal lebih banyak dan lebih berkualitas lagi. Produktivitasnya akan terjaga bahkan akan terus bertambah sedikit demi sedikit.

Yang ketiga, bergerak dari sekarang. Seorang sahabat pernah berkata, “Jika engkau di pagi hari maka janganlah menunggu waktu besok, dan jika engkau di sore hari maka janganlah menunggu nanti sore”.

Prinsip ”bergerak dari sekarang” ini menunjukan suatu etos kerja yang tinggi dan hamasah (semangat) beramal yang menggebu-gebu. Seorang muslim sangatlah tidak pantas jika menunda-nunda suatu amal, karena waktu dalam pandangan Islam sangatlah mahal (oleh karena itu, dalam Al-Quran Allah swt banyak bersumpah dengan waktu). Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengatakan bahwa “waktu adalah kehidupan” .

Yang keempat, kontinuitas dalam beramal. Dalam Islam, masa produktif ialah sepanjang hayat, selama ia masih menghirup kehidupan, maka ia dituntut untuk terus beramal dan menjaga produktivitasnya, walaupun amalan itu dilakukan sedikit demi sedikit. Aisyah pernah menceritakan bahwa suatu waktu Rasulullah saw pernah ditanya mengenai amalan yang paling dicintai oleh Allah, Maka Rasul pun spontan menjawab: ”Yang dilakukan secara terus menerus, walaupun sedikit” (al-Hadits).

`Inilah di antara prinsip-prinsip keislaman yang akan mengantarkan manusia menjadi insan ‘amali, insan produktif sepanjang hayat. Sekarang tinggal tugas kita, apakah prinsip-prinsip tersebut hanya akan dijadikan sebuah konsep belaka, ataukah akan dijadikan “ruh” kehidupan kita, sehingga kita menjadi “Islam yang berjalan” dan petunjuk-petunjuk Ilahiyyah betul-betul terapliaksikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bulan Puasa = Bulan Produktivitas

Bulan Puasa Itu Bulan Produktivitas
Oleh: Mohamad “BEAR” Yunus

Seharusnya pada bulan Ramadhan ini, bulan yang diyakini sebagai bulan yang mulia, bulan yang selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh setiap kaum muslim, akan selalu meningkatkan kesejahteraan bangsa!!

Bagaimana tidak? Coba simak sabda Rasulullah saw yang pada intinya menyatakan bahwa : ” Pada bulan ini tarikan dan desahan nafas orang-orang beriman yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya adalah ibadah. Bulan dimana hari-harinya sangat mulia, waktu malamnya sangat mulia, detik demi detik waktunya adalah waktu yang paling berharga, semua permohonan yang dipanjatkan dengan khusu’ akan diijabah, semua amal baik pasti diterima dan doa-doanya dikabulkan.” Sepanjang bulan Ramadhan ini, Allah melipat-gandakan balasan setiap amalan kebaikan.

Semua orang tahu semua orang muslim meyakini, bahwa setiap langkah kaki menuju tempat kerja akan dibalas dengan kucuran rejeki tak terhingga. Setiap usaha yang memudahkan urusan orang akan diberikan pahala tiada tara. Setiap tetes keringat yang mengucur saat menuntaskan tugas akan diganti dengan kesejukan yang menenteramkan kelak saat di padang mahsyar. Bibir yang kering karena memberikan informasi dan senyum ikhlas juga dihadiahi air pelepas dahaga dalam perjalanan menuju surga. Dan lain sebagainya.

Tetapi lihatlah kenyataan selama lima hari kita berpuasa di tahun ini. ternyata, jam pelayanan para Abdi Masyarakat menjadi lebih pendek. Masjid-masjid penuh dengan orang-orang yang tidur menunggu waktu berbuka dengan meninggalkan tugas pokok kewajibannya dalam melayani masyarakat. Banyak orang mengabaikan bahwa bulan ini adalah bulan mulia, bulan kesempatan untuk bekerja sekuat tenaga, agar mendapatkan pahala yang tak terhingga.

Dengan alasan menjalankan ibadah puasa, seolah sah-sah saja jika kita bermalas-malasan, seolah wajar jika pelayanan ditunda, karena badan lemas, mulut haus dan perut lapar. Kita lupa bahwa pada bulan puasa justru seharusnya semua aktivitas menjadi ditingkatkan berlipat ganda!

Kondisi seperti ini harus segera diakhiri. Alih-alih berteriak menuntut agar orang-orang non muslim menghormati mereka yang berpuasa agar tidak makan minum di area terbuka, kenapa tidak kita yang orang muslim menunjukkan ketegaranya saat berpuasa? Jangan jadikan bulan Ramadhan ini bulan kemalasan nasional, jangan kita gunakan agama sebagai dalih untuk bermalas-malasan, karena ini hanya akan memalukan Islam, merendahkan kita dan merugikan bangsa. (Wisnu Darjono)
Have a positive day!

Salam

Mohamad “BEAR” Yunus

”Raihlah sifat Tawadhu untuk hilangkan rasa sombong”

Memudahkan Urusan Orang Lain

Memudahkan Urusan Orang Lain
Oleh: Dadang Kadarusman*

Ini adalah salah satu kalimat paling popular diantara kita;”Jika bisa di bikin sulit, mengapa dibuat mudah…?” Awalnya kita hanya menganggap itu sebagai sindiran. Lalu berubah menjadi guyonan. Kemudian berevolusi menjadi kebiasaan yang menggoda kita untuk melakukannya juga. Maka tidak heran jika semakin hari, semakin jarang kita temukan orang-orang yang melayani dengan semangat untuk memudahkan urusan orang lain. Cobalah ingat-ingat kembali, mana yang lebih banyak Anda rasakan; pelayanan yang memudahkan urusan Anda atau sebaliknya?

Istri saya memiliki pengalaman menarik. Suatu ketika dia menemani ibunya untuk kebutuhan pelayanan kesehatan di tempat yang jauh. Dia sudah membawa ibu kami ke berbagai tempat, sehingga mempunyai referensi pelayanan dari pengalaman sebelumnya. Di tempat terakhir ini, dia mendapatkan pengalaman berbeda. Sebagai orang baru dia tidak mengenal budaya setempat. Bukan itu saja, beberapa kelengkapan administrasi tidak terbawa pula. Apa yang terjadi? Dia diminta untuk duduk di ruang tunggu, sedangkan ‘semua urusan’ ditangani oleh seseorang yang melayaninya di tempat itu. “Kenapa sih tempat kita sendiri aku tidak menemukan pelayanan seperti ini?” begitulah kalimat yang dilontarkannya. Jawabannya sederhana saja; kita tidak terbiasa untuk memudahkan urusan orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk menemani saya belajar memudahkan urusan orang lain, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intellligence berikut ini:

1. Mulailah dengan tujuan yang tepat dalam bekerja. Apa tujuan Anda bekerja?. Uang? Bagus. Namun berhati-hati dengan efek sampingnya. Misalnya, meminta imbalan yang tidak seharusnya Anda terima. Terimalah hanya uang yang memang sudah menjadi hak Anda. Uang sering menjadi ukuran ‘seberapa bersedianya kita memudahkan urusan orang lain”. Maka bekerja dengan tujuan uang, bisa menjadikan kita orang yang benar atau salah. Bagaimana kalau kita mengganti tujuan bekerja itu dari sekedar uang, menjadi ‘ibadah’? Dengan niat itu Anda sudah pasti mendapatkan uang yang menjadi hak Anda sepenuhnya. Tidak akan dikurangi. Dan dengan niat ibadah itu, kita bisa memposisikan diri untuk melayani. Maka bagi orang yang niatnya bekerja adalah ibadah, sangat mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Karena dalam ibadah, kinerja kita tercermin dari kemudahan yang dirasakan oleh orang-orang yang kita layani. Jika didalam hati kita masih ada bisikan untuk ‘melambat-lambatkan’ yang bisa cepat, mungkin niat bekerja kita belum tepat. Jika dalam bekerja kita ‘mengabaikan kepentingan orang lain’, mungkin niat kita masih salah. Jika kita hanya mau memudahkan urusan orang lain jika dan hanya jika mereka memberi ‘imbalan’ tambahan diluar hak kita; maka boleh jadi; tujuan kita dalam bekerja belum diubah menjadi ‘ibadah’.

2. Bangunlah reputasi yang baik untuk diri sendiri. Mari kita coba perhatikan semua orang atau semua departemen di kantor kita. Ada departemen yang mudah untuk diajak bekerja sama. Ada juga departemen yang semua orang juga tahu betapa sulitnya untuk bekerjasama dengan mereka. Kita juga bisa melihat hal itu di tingkat individu. Ada orang-orang yang kita semua kenal dia sebagai pribadi yang senang sekali menolong orang lain. Ada yang dikenal sebagai orang usil. Ada yang pemarah. Rajin. Malas. Dan ada pula orang-orang yang dikenal sebagai orang yang paling gemar menyusahkan orang lain. Kata ‘dikenal’ yang saya sebut berulang-ulang itu mengindikasikan reputasi. Sebab reputasi merujuk kepada “bagaimana kualitas pribadi seseorang ‘dikenal’ oleh orang lain”. Selalu bersedia memudahkan urusan orang lain adalah salah satu kualitas yang mutlak harus dimiliki oleh siapa pun yang ingin memiliki reputasi yang baik. Mengapa? Karena reputasi kita dinilai oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaimnya. Apakah Anda ingin memiliki reputasi pribadi yang baik? Jika ya, maka mulailah dengan membiasakan diri untuk memudahkan urusan orang lain.

3. Tetaplah menegakkan prosedur dan kedisiplinan. Kadang-kadang kita suka menjerumuskan diri kedalam sudut pandang negatif. “Kalau kita memudahkan urusan orang lain berarti kita melanggar prosedur,” kita bilang. Kita berpikir begitu, mungkin karena kita belum bisa keluar dari kebiasaan buruk untuk melanggar prosedur. Padahal, memudahkan urusan orang lain tidak selalu harus melanggar prosedur. Justru untuk memudahkan urusan orang lain, kita harus menegakkan prosedur; baik yang tertulis maupun yang sudah menjadi norma umum. Misalnya, first come, first serve. Yang pertama datang, itulah yang dilayani. Atau mengacu kepada KPI. Misalnya, dokumen di meja kita harus segera keluar paling lambat dalam 1 hari. Semua permintaan disposisi dari departemen lain harus sudah selesai selambat-lambat dalam 3 hari. Justru dengan mengikuti prosedur itu kita bisa memudahkan urusan orang lain, karena prosedur dibuat untuk memudahkan urusan semua orang. Jika ada orang yang menegur Anda karena menegakkan prosedur, Anda tidak akan pernah dipersalahkan.

4. Gunakan judgement profesional dan buatlah pengecualian. Prosedur di perusahaan tidak selalu bisa mengakomodasi situasi khusus. Orang-orang yang tugasnya berhubungan dengan pihak luar tahu benar tentang hal ini. Sayangnya, seringkali tidak dimengerti oleh orang-orang supporting function. Makanya, orang yang berhubungan dengan pihak luar sering tergencet diantara kewajiban untuk melayani pihak luar dengan kengototan membabi buta orang dalam. Jika Anda yang orang dalam itu, maka saya ingin mengajak untuk belajar menggunakan judgment profesional Anda. Kita bukanlah robot yang bekerja sesuai dengan ‘setelan’ program. Kita adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk menilai dan mengambil keputusan. Perhatikanlah jika teman Anda didepartemen lain meminta pengecualian pada kondisi khusus. Janganlah bersembunyi dibalik kata ‘prosedur’. Justru kengototan kita bisa merusak reputasi perusahaan. “Maaf Bung, prosedurnya 14 hari kerja,” misalnya. Gunakan kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan Anda, maka Anda akan tahu bahwa; menyelesaikannya dengan lebih cepat menjaga reputasi perusahaan dimata pihak luar yang menjadi mitra bisnis atau pelanggan Anda. Lagipula, logika umum mengatakan bahwa dalam hal melayani berlaku hukum;”lebih cepat, lebih baik’. Maka gunakanlah judgment profesional Anda.

5. Balaslah keburukan dengan kebaikan. Ada juga orang yang menyulitkan orang lain karena mereka merasa kesal kepada orang itu. Misalnya, “orangnya jutek, ngapain saya mudahin!” Lho, yang jutek salah satu atau keduanya ya? Ada juga yang bilang;”Dia kebiasaannya mau cepat melulu, biar kita lambatin aja sekalian…” Ada lho orang yang berprinsip demikian. Mereka hanya memikirkan untuk ‘membalas’ orang yang tidak ‘cocok’ dengannya tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang-orang lain yang tidak kelihatan. Ketika kita membuat susah satu orang dikantor, mungkin efeknya terbawa ke rumah. Disana mungkin ada istri yang sedang hamil. Atau anaknya yang demam. Balita yang membutuhkan susu. Atau, mungkin ada anak yatim yang menantikan sesuatu. Kita tidak pernah tahu. Maka perlakuan buruk kita kepada orang yang tidak kita sukai itu telah salah sasaran. Dan kita jadi berdosa kepada mereka. “Tapi, saya tidak suka dengan cara orang itu menyuruh-nyuruh saya. Bos saya juga nggak gitu-gitu amat!” Apakah Anda pernah mendengar kalimat itu? Sounds familiar, ya. Hey, ingatlah bahwa kita hidup bukan untuk saling berbalas keburukan. Anda adalah orang baik. Maka janganlah ikut terseret untuk meninggalkan sikap dan perilaku baik. Bahkan jika orang lain melakukan keburukan kepada Anda. Balaslah keburukan mereka dengan kebaikan. Mengapa? Karena Anda adalah orang baik.

Memang tidak mudah untuk memudahkan urusan orang lain. Khususnya memudahkan mereka yang menurut penilaian kita sering menyulitkan kita. Sulit juga untuk memudahkan urusan orang yang suka meminta kita cepat-cepat. Tetapi, bukankah nilai diri kita meningkat semakin tinggi justru ketika kita bisa membuat mudah urusan mereka? Jika hati Anda masih terganjal oleh kedongkolan atas perilaku mereka yang hendak Anda mudahkan urusannya itu, barangkali nasihat dari guru kehidupan saya bisa menjadi bahan renungan. Beliau mengatakan;”Siapa saja yang selama hidupnya gemar memudahkan urusan orang lain, Maka Allah akan memudahkan segala urusannya di dunia dan diakhirat.” Oh, siapakah gerangan yang bisa memudahkan urusan kita secara sempurna selain Dia Yang Maha Kuasa? Maukah Anda dimudahkan urusannya oleh Tuhan? Jika demikian, belajarlah untuk memudahkan urusan orang lain.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 9 Agustus 2011
Natural Intelligence Learning Facilitator
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Buktikan "SEIKHLASNYA"; mulai 17 Agustus 2011

Catatan Kaki:
Keikhlasan seseorang dalam melayani tercermin dari usahanya untuk memudahkan urusan orang-orang yang dilayaninya.

Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Follow DK on Twitter @dangkadarusman

-- Berikan Kesan dan Pesan Anda --

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...